Kamis, 27 Oktober 2016

biodata

school.id

BIODATA

KEMBALI KE HALAMAN BERANDA

 A.DATA DIRI   
    1.Nama                           :   REGGY CHARLES IMANUEL LASUT
    2.TANGGAL LAHIR       :   12 JANUARI 2001
    3.ALAMAT RUMAH       :   JL.AWARA KARYA KECAMATAN KOTA TENGAH
    4.SEKOLAH                   :   SMK NEGRI 4 GORONTALO
    5.PENDIDIKAN TERAKHIR :   SMP NEGRI 1 RANDANGAN
    6.AGAMA                      :   KRISTEN
	
 

Jumat, 21 Oktober 2016

belajar configuration

teknik jaringan dan komputer

Konfigurasi DNS, DHCP, MAIL dan WEB Server pada Cisco Packet Tracer

Disini saya akan mengaktifkan service DNS Server (Domain Name System), DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol), Mail  dan Web Server pada Cisco Packet Tracer 6.2SV. Untuk mengaktifkan service - service tadi, sobat bisa mengikuti langkah - langkah berikut :

1. Buat jaringan seperti gambar berikut pada Cisco Packet Tracer.
Konfigurasi DNS, DHCP, MAIL dan WEB Server pada Cisco Packet Tracer
2. Klik pada Server0, pada menu Desktop -> IP Configuration, sobat bisa mengisi seperti gambar berikut:
Konfigurasi DNS, DHCP, MAIL dan WEB Server pada Cisco Packet Tracer
3. Masih di Server0, pilih menu DHCP, jika sudah di isi, lalu klik Save.
Konfigurasi DNS, DHCP, MAIL dan WEB Server pada Cisco Packet Tracer

Untuk Gateway bisa sesuaikan dengan keinginan sobat.
Untuk DNS Server, isi menggunakan IP Server.
Start IP Address merupakan IP Awal yang digunakan pada Client
Maximum number of users = maksimal Client sejumlah 512.

4. Pada IP Configuration di PC0, yang asalnya Static ubah menjadi DHCP.
Konfigurasi DNS, DHCP, MAIL dan WEB Server pada Cisco Packet Tracer
Jika bertuliskan "DHCP request successful" maka terkonfigurasi dengan benar.
5. Pada IP Configuration di PC1, yang asalnya Static ubah menjadi DHCP.
Konfigurasi DNS, DHCP, MAIL dan WEB Server pada Cisco Packet Tracer
Jika bertuliskan "DHCP request successful" maka terkonfigurasi dengan benar.
6. Jika semua titik sudah hijau dan IP sudah di pasangkan dengan benar, cobat bisa mengtes seperti gambar berikut 
Konfigurasi DNS, DHCP, MAIL dan WEB Server pada Cisco Packet Tracer
Jika semua Successful maka semua sudah tersambung.
7. Klik Server0, pada menu Services -> DNS. isi sesuai keinginan, jika sudah klik Add.
Konfigurasi DNS, DHCP, MAIL dan WEB Server pada Cisco Packet Tracer
Isikan Name dengan domain yang sobat inginkan.
Gunakan Type : A Record (Address)
Untuk Address isikan dengan IP DNS
8. Dan ini hasil uji ping pada client.
Konfigurasi DNS, DHCP, MAIL dan WEB Server pada Cisco Packet Tracer
Ujicoba ping pada PC0
Konfigurasi DNS, DHCP, MAIL dan WEB Server pada Cisco Packet Tracer
Ujicoba ping pada PC1
9. Untuk mengaktifkan Service Email, klik pada Server -> Services -> Email. Seperti gambar berikut:
Konfigurasi DNS, DHCP, MAIL dan WEB Server pada Cisco Packet Tracer
1. Untuk Domain Name isikan sesuai keinginan sobat, tanpa www.
2. Jika sudah klik Set (agar domain tersimpan).
3. Isi User dan Password (untuk PC yang mau didaftarkan)
4. Jika sudah klik tanda + (add)
10. Gambar berikut merupakan tampilan Konfigurasi Mail pada PC0. Jika sudah di isi, klik Save.
Konfigurasi DNS, DHCP, MAIL dan WEB Server pada Cisco Packet Tracer
Email Address bisa diisi bebas, dengan domain yang sudah di buat tadi.
Untuk Incoming dan Outgoing gunakan IP Server.
Untuk User Name dan Password sesuaikan dengan yang telah dibuat.
11. Gambar berikut merupakan tampilan Konfigurasi Mail pada PC1. Jika sudah di isi, klik Save.
Konfigurasi DNS, DHCP, MAIL dan WEB Server pada Cisco Packet Tracer
Email Address bisa diisi bebas, dengan domain yang sudah di buat tadi.
Untuk Incoming dan Outgoing gunakan IP Server.
Untuk User Name dan Password sesuaikan dengan yang telah dibuat.
12. Setelah itu klik Compose (Pada Mail Browser di PC1).
Konfigurasi DNS, DHCP, MAIL dan WEB Server pada Cisco Packet Tracer
13. Pada Compose Mail, untuk penerimanya sobat bisa isi sesuai yang telah di buat. Jika sudah klik Send.
Konfigurasi DNS, DHCP, MAIL dan WEB Server pada Cisco Packet Tracer
14.  Pada Mail Browser di bagian Recive, jika seperti gambar berikut maka sudah terkonfigurasi dengan benar.
Konfigurasi DNS, DHCP, MAIL dan WEB Server pada Cisco Packet Tracer
15. Dan untuk Web Server sobat bisa mengklik Server0 -> Service -> HTTP. Setelah itu sobat klik (edit) pada bagian index.html.
Konfigurasi DNS, DHCP, MAIL dan WEB Server pada Cisco Packet Tracer
16. Jika sobat sudah mengedit sesuai keinginan. Setelah itu klik Save, lalu Yes.
Konfigurasi DNS, DHCP, MAIL dan WEB Server pada Cisco Packet Tracer
17. Jika hasilnya sesuai yang sobat inginkan, maka sobat berhasil.
Konfigurasi DNS, DHCP, MAIL dan WEB Server pada Cisco Packet Tracer
Jika sobat masih belum paham dalam Konfigurasi DNS, DHCP, MAIL dan WEB Server pada Cisco Packet Tracer, sobat bisa menonton video yang telah saya buat : 

Jika kedua cara di atas masih belum mengerti, sobat bisa menanyakan di kolom komentar.

Jumat, 14 Oktober 2016

sistem oprasi (os)

DEFINISI, FUNGSI, DAN CONTOH SISTEM OPERASI
  DEFINISI SISTEM OPERASI :
Sistem operasi (operating system: OS) adalah seperangkat program yang mengelola sumber daya perangkat keras komputer, dan menyediakan layanan umum untuk aplikasi  perangkat lunak. Sistem operasi adalah jenis yang paling penting dari perangkat lunak sistem dalam sistem komputer. Tanpa sistem operasi, pengguna tidak dapat menjalankan program aplikasi pada komputer mereka, kecuali program aplikasi booting.
  FUNGSI SISTEM OPERASI :
Kalau sistem komputer terbagi dalam lapisan-lapisan, maka Sistem Operasi adalah penghubung antara lapisan hardware dengan lapisan software. Sistem Operasi melakukan semua tugas-tugas penting dalam komputer, dan menjamin aplikasi-aplikasi yang berbeda dapat berjalan secara bersamaan dengan lancar.
Sistem Operasi menjamin aplikasi lainnya dapat menggunakan memori, melakukan input dan output terhadap peralatan lain, dan memiliki akses kepada sistem berkas. Apabila beberapa aplikasi berjalan secara bersamaan, maka Sistem Operasi mengatur schedule yang tepat, sehingga sedapat mungkin semua proses yang berjalan mendapatkan waktu yang cukup untuk menggunakan prosesor (CPU) serta tidak saling mengganggu.
Dalam banyak kasus, Sistem Operasi menyediakan suatu pustaka dari fungsi-fungsi standar, dimana aplikasi lain dapat memanggil fungsi-fungsi itu, sehingga dalam setiap pembuatan program baru, tidak perlu membuat fungsi-fungsi tersebut dari awal.
Sebagian Sistem Operasi hanya mengizinkan satu aplikasi saja yang berjalan pada satu waktu (misalnya DOS), tetapi sebagian besar Sistem Operasi baru mengizinkan beberapa aplikasi berjalan secara simultan pada waktu yang bersamaan. Sistem Operasi seperti ini disebut sebagai Multi-tasking Operating System (misalnya keluarga sistem operasi UNIX).
Beberapa Sistem Operasi berukuran sangat besar dan kompleks, serta inputnya tergantung kepada input pengguna, sedangkan Sistem Operasi lainnya sangat kecil dan dibuat dengan asumsi bekerja tanpa intervensi manusia sama sekali. Tipe yang pertama sering disebut sebagai Desktop OS, sedangkan tipe kedua adalah Real-Time OS, contohnya adalah Windows, Linux, Free BSD, Solaris, palm, symbian, dan sebagainya.


CONTOH SISTEM OPERASI :

Contoh sistem operasi modern adalah Unix, Linux, Mac OS X, FreeBSD, SunOS dan Windows. 
1.      UNIX
Unix atau UNIX adalah sebuah sistem operasi komputer yang dikembangkan oleh AT&T Bell Labs pada tahun 1960 dan 1970-an. UNIX didesain sebagai sistem operasi yang portable, multi-tasking dan multi-user. BSD adalah salah satu turunan (varian) Unix yang dikembangkan oleh Universitas California, Berkeley.
2.       Linux
Linux adalah nama yang diberikan kepada sistem operasi komputer bertipe Unix. Linux merupakan salah satu contoh hasil pengembangan perangkat lunak bebas dan sumber terbuka utama. Seperti perangkat lunak bebas dan sumber terbuka lainnya pada umumnya, kode sumber Linux dapat dimodifikasi, digunakan dan didistribusikan kembali secara bebas oleh siapapun.
Nama “Linux” berasal dari nama kernelnya (kernel Linux), yang dibuat tahun 1991 oleh Linus Torvalds.
3.      Mac OS
Mac OS adalah singkatan dari Macintosh Operating System. Mac OS adalah sistem operasi komputer yang dibuat oleh Apple Computer khusus untuk komputer Macintosh dan tidak kompatibel dengan PC berbasis IBM. Diperkenalkan pada tahun 1984, Mac OS sejak tahun 2006 telah memiliki kompatibilitas dengan arsitektur PowerPC maupun x86.
4.      FreeBSD
FreeBSD adalah sebuah sistem operasi bertipe Unix bebas yang diturunkan dari UNIX AT&T lewat cabang Berkeley Software Distribution (BSD) yaitu sistem operasi 386BSD dan 4.4BSD. FreeBSD berjalan di atas sistem Intel x86 (IA-32) (termasuk Microsoft Xbox), DEC Alpha, Sun UltraSPARC, IA-64, AMD64, PowerPC dan arsitektur NEC PC-98. Dukungan untuk arsitektur ARM dan MIPS sedang dalam pengembangan.
5.       SUN OS
SUN OS adalah sebuah versi UNIX yang digunakan dalam workstation-workstation Sun Microsystems yang dirilis pada tahun 1982. Setelah merilis SunOS versi 4, Sun Microsystems mengubah kode UNIX BSD yang sebelumnya mereka gunakan dengan kode UNIX System V, setelah mendapatkan lisensi dari pemegang lisensi UNIX waktu itu, AT&T. Perubahan ini menjadikan namanya berubah menjadi Solaris versi 2, dari yang seharusnya SunOS 5. Sehingga, secara tidak langsung, SunOS pun dianggap sebagai Solaris versi 1.x.
6.       Windows
Microsoft Windows atau lebih dikenal dengan sebutan Windows adalah keluarga sistem operasi komputer pribadi yang dikembangkan oleh Microsoft yang menggunakan antarmuka dengan pengguna berbasis grafik (graphical user interface).
Microsoft Windows kemudian bisa berkembang dan dapat menguasai penggunaan sistem operasi hingga mencapai 90% di dunia.

SISTEM OPERASI SAAT INI :
    Sistem operasi-sistem operasi utama yang digunakan komputer umum (termasuk PC, komputer personal) terbagi menjadi 3 kelompok besar :
·        Keluarga Microsoft Windows - yang antara lain terdiri dari Windows Desktop Environment (versi 1.x hingga versi 3.x), Windows 9x (Windows 95, 98, dan Windows ME), dan Windows NT (Windows NT 3.x, Windows NT 4.0, Windows 2000, Windows XP, Windows Server 2003, Windows Vista, Windows Server 2008, Windows 7 (Seven) yang dirilis pada tahun 2009, dan Windows 8 yang dirilis pada Oktober 2012)).
·        Keluarga Unix yang menggunakan antarmuka sistem operasi POSIX, seperti SCO UNIX, keluarga BSD (Berkeley Software Distribution), GNU/Linux, MacOS/X (berbasis kernel BSD yang dimodifikasi, dan dikenal dengan nama Darwin) dan GNU/Hurd.
·        Mac OS, adalah sistem operasi untuk komputer keluaran Apple yang biasa disebut Mac atau Macintosh. Sistem operasi yang terbaru adalah Mac OS X versi 10.6 (Snow Leopard). Musim panas 2011 direncanakan peluncuran versi 10.7 (Lion).
 
Perbandingan Sistem Dahulu dan Sekarang

Dahulu
Sekarang
Komputer Utama
Main Frame
Jaringan komputer personal
Memori
Beberapa Kbytes
Beberapa Gbytes
Disk
Beberapa Mbytes
Beberapa ratus Gbytes
Peraga
Terminal Teks
Grafik bersolusi tinggi
Arsitektur
Beragam Arsitektur
Dominasi keluarga i386
Sistem Operasi
Beda Sistem Operasi Untuk setiap Arsitektur
Dominasi microsoft dengan beberapa pengecualian

Hal yang paling terlihat secara kasat mata ialah perubahan (pengecilan) fisik yang luar biasa. Penggunaan memori dan disk pun meningkat dengan tajam, terutama setelah multimedia mulai dimanfaatkan sebagai antarmuka interaksi. Saat dahulu, setiap arsitektur komputer memiliki Sistem Operasi yang tersendiri. 
Terlepas dari perubahan tersebut di atas, banyak aspek yang tetap sama seperti dahulu. Komputer abad lalu menggunakan model arsitektur von-Neumann, dan demikian pula model komputer abad ini. Aspek pengelolaan sumber-daya Sistem Operasi seperti proses, memori, masukan/keluaran (m/k), berkas, dan seterusnya masih menggunakan prinsip-prinsip yang sama. Dengan sendirinya, mempelajari Sistem Operasi masih tetap serelevan abad lalu, walaupun telah terjadi berbagai perubahan fisik.

PENANGANAN PROSES SISTEM OPERASI :

1.Multiprogramming > metode yang memungkinkan 2 buah program atau lebih di jalankan secara bersamaan dalam sebuah komputer dan berbagi sumber daya dalam waktu yng berlainan.

2.Multitasking > kemampuan yng memungkinkan seorang client menjalankan sejumlah program dalam waktu yang sama dan cara seperti ini umum dalam sistem PC, dengan menggunakan sistem operasi Windows, pengguna dapat menjalanakn program word dan sekaligus menjalankan program excel,pemakai dapat berpindah dari satu program ke program yang lain dengan mudah.

3.Penyimpana Virtual > metode yng menangani sejumlah program dengan membagi program - program tersebuut kedalam bagian yang lebih kecil dan berukuran sama.

4.Time Sharing > metode yang digunakan agar pengguna dapat berinteraksi dengan proses yang dibuatnya (setiap proses akan ditangani oleh CPU secara bergantian dalam jumlah waktu yg sama ).

5.Multiprocessing  > kemampuan sistem operasi untuk menjalankan dua atau lebih instruksi secara serentak dengan menggunakan sejumlah CPU dalam sebuah komputer.

KESIMPULAN MENGENAI SISTEM OPERASI :

Dapat disimpulkan, bahwa Sistem Operasi merupakan komponen penting dari setiap sistem komputer. Akibatnya, pelajaran "Sistem Operasi" selayaknya merupakan komponen penting dari sistem pendidikan berbasis "ilmu komputer". Konsep Sistem Operasi dapat lebih mudah dipahami, jika juga memahami jenis perangkat keras yang digunakan. Demikian pula sebaliknya. Dari sejarah diketahui bahwa Sistem Operasi dan perangkat keras saling mempengaruhi dan saling melengkapi. Struktur dari sebuah Sistem Operasi sangat tergantung pada perangkat keras yang pertama kali digunakan untuk mengembangkannya. Sedangkan perkembangan perangkat keras sangat dipengaruhi dari hal-hal yang diperlukan oleh sebuah Sistem Operasi. Dalam sub bagian-bagian berikut ini, akan diberikan berbagai ilustrasi perkembangan dan jenis Sistem Operasi beserta perangkat kerasnya. 

Referensi :
·         Buku Sistem operasi by Dr. Bambang Hariyanto
·         Www.Wikipedia.com
      Pengantar Sistem Operasi Komputer : Plus Ilustrasi Kernel Linux
      charleslasutbloger@bloger.com         

Kamis, 06 Oktober 2016

cara menghitung IP ADDRESS untuk siswa



CARA MENGHITUNG IP ADDRESS, SUBNET MASK DAN NET ID
 
  Name:Reggy charles imanuel lasut
  Kelas:x tkj 2
  Asal sekolah: Smk Negeri 4 Gorontalo

Konsep Subnetting
Subnetting adalah termasuk materi yang banyak keluar di ujian CCNA dengan berbagai variasi soal. Juga menjadi momok bagi student atau instruktur yang sedang menyelesaikan kurikulum CCNA 1 program CNAP (Cisco Networking Academy Program). Untuk menjelaskan tentang subnetting, saya biasanya menggunakan beberapa ilustrasi dan analogi yang sudah kita kenal di sekitar kita. Artikel ini sengaja saya tulis untuk rekan-rekan yang sedang belajar jaringan, yang mempersiapkan diri mengikuti ujian CCNA, dan yang sedang mengikuti pelatihan CCNA 1.
Sebenarnya subnetting itu apa dan kenapa harus dilakukan? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan analogi sebuah jalan. Jalan bernama Gatot Subroto terdiri dari beberapa rumah bernomor 01-08, dengan rumah nomor 08 adalah rumah Ketua RT yang memiliki tugas mengumumkan informasi apapun kepada seluruh rumah di wilayah Jl. Gatot Subroto.
Ketika rumah di wilayah itu makin banyak, tentu kemungkinan menimbulkan keruwetan dan kemacetan. Karena itulah kemudian diadakan pengaturan lagi, dibuat gang-gang, rumah yang masuk ke gang diberi nomor rumah baru, masing-masing gang ada Ketua RTnya sendiri-sendiri. Sehingga ini akan memecahkan kemacetan, efiesiensi dan optimalisasi transportasi, serta setiap gang memiliki previledge sendiri-sendiri dalam mengelola wilayahnya. Jadilah gambar wilayah baru seperti di bawah:
Konsep seperti inilah sebenarnya konsep subnetting itu. Disatu sisi ingin mempermudah pengelolaan, misalnya suatu kantor ingin membagi kerja menjadi 3 divisi dengan masing-masing divisi memiliki 15 komputer (host). Disisi lain juga untuk optimalisasi dan efisiensi kerja jaringan, karena jalur lalu lintas tidak terpusat di satu network besar, tapi terbagi ke beberapa ruas-ruas gang. Yang pertama analogi Jl Gatot Subroto dengan rumah disekitarnya dapat diterapkan untuk jaringan adalah seperti NETWORK ADDRESS (nama jalan) dan HOST ADDRESS (nomer rumah). Sedangkan Ketua RT diperankan oleh BROADCAST ADDRESS (192.168.1.255), yang bertugas mengirimkan message ke semua host yang ada di network tersebut.
Masih mengikuti analogi jalan diatas, kita terapkan ke subnetting jaringan adalah seperti gambar di bawah. Gang adalah SUBNET, masing-masing subnet memiliki HOST ADDRESS dan BROADCAST ADDRESS.
Terus apa itu SUBNET MASK? Subnetmask digunakan untuk membaca bagaimana kita membagi jalan dan gang, atau membagi network dan hostnya. Address mana saja yang berfungsi sebagai SUBNET, mana yang HOST dan mana yang BROADCAST. Semua itu bisa kita ketahui dari SUBNET MASKnya. Jl Gatot Subroto tanpa gang yang saya tampilkan di awal bisa dipahami sebagai menggunakan SUBNET MASK DEFAULT, atau dengan kata lain bisa disebut juga bahwa Network tersebut tidak memiliki subnet (Jalan tanpa Gang). SUBNET MASK DEFAULT ini untuk masing-masing Class IP Address adalah sbb:
CLASS
OKTET PERTAMA
SUBNET MAS DEFAULT
PRIVATE ADDRESS
A
1-127
255.0.0.0
10.0.0.0-10.255.255.255
B
128-191
255.255.0.0
172.16.0.0-172.31.255.255
C
192-223
255.255.255.0
192.168.0.0-192.168.255.255
Perhitungan Subnetting
Setelah memahami konsep Subnetting dengan baik. Kali ini saatnya anda mempelajari teknik penghitungan subnetting. Penghitungan subnetting bisa dilakukan dengan dua cara, cara binary yang relatif lambat dan cara khusus yang lebih cepat. Pada hakekatnya semua pertanyaan tentang subnetting akan berkisar di empat masalah: Jumlah Subnet, Jumlah Host per Subnet, Blok Subnet, dan Alamat Host- Broadcast.
Penulisan IP address umumnya adalah dengan 192.168.1.2. Namun adakalanya ditulis dengan 192.168.1.2/24, apa ini artinya? Artinya bahwa IP address 192.168.1.2 dengan subnet mask 255.255.255.0. Lho kok bisa seperti itu? Ya, /24 diambil dari penghitungan bahwa 24 bit subnet mask diselubung dengan binari 1. Atau dengan kata lain, subnet masknya adalah: 11111111.11111111.11111111.00000000 (255.255.255.0). Konsep ini yang disebut dengan CIDR (Classless Inter-Domain Routing) yang diperkenalkan pertama kali tahun 1992 oleh IEFT.
Pertanyaan berikutnya adalah Subnet Mask berapa saja yang bisa digunakan untuk melakukan subnetting? Ini terjawab dengan tabel di bawah:
Subnet Mask
Nilai CIDR
255.128.0.0
/9
255.192.0.0
/10
255.224.0.0
/11
255.240.0.0
/12
255.248.0.0
/13
255.252.0.0
/14
255.254.0.0
/15
255.255.0.0
/16
255.255.128.0
/17
255.255.192.0
/18
255.255.224.0
/19
Subnet Mask
Nilai CIDR
255.255.240.0
/20
255.255.248.0
/21
255.255.252.0
/22
255.255.254.0
/23
255.255.255.0
/24
255.255.255.128
/25
255.255.255.192
/26
255.255.255.224
/27
255.255.255.240
/28
255.255.255.248
/29
255.255.255.252
/30
 SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS C
Ok, sekarang mari langsung latihan saja. Subnetting seperti apa yang terjadi dengan sebuah NETWORK ADDRESS 192.168.1.0/26 ?
Analisa: 192.168.1.0 berarti kelas C dengan Subnet Mask /26 berarti 11111111.11111111.11111111.11000000 (255.255.255.192).
Penghitungan: Seperti sudah saya sebutkan sebelumnya semua pertanyaan tentang subnetting akan berpusat di 4 hal, jumlah subnet, jumlah host per subnet, blok subnet, alamat host dan broadcast yang valid. Jadi kita selesaikan dengan urutan seperti itu:
1.     Jumlah Subnet = 2x, dimana x adalah banyaknya binari 1 pada oktet terakhir subnet mask (2 oktet terakhir untuk kelas B, dan 3 oktet terakhir untuk kelas A). Jadi Jumlah Subnet adalah 22 = 4 subnet
2.     Jumlah Host per Subnet = 2y – 2, dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada oktet terakhir subnet. Jadi jumlah host per subnet adalah 26 – 2 = 62 host
3.     Blok Subnet = 256 – 192 (nilai oktet terakhir subnet mask) = 64. Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192. Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192.
4.     Bagaimana dengan alamat host dan broadcast yang valid? Kita langsung buat tabelnya. Sebagai catatan, host pertama adalah 1 angka setelah subnet, dan broadcast adalah 1 angka sebelum subnet berikutnya.
Subnet
192.168.1.0
192.168.1.64
192.168.1.128
192.168.1.192
Host Pertama
192.168.1.1
192.168.1.65
192.168.1.129
192.168.1.193
Host Terakhir
192.168.1.62
192.168.1.126
192.168.1.190
192.168.1.254
Broadcast
192.168.1.63
192.168.1.127
192.168.1.191
192.168.1.255
Kita sudah selesaikan subnetting untuk IP address Class C. Dan kita bisa melanjutkan lagi untuk subnet mask yang lain, dengan konsep dan teknik yang sama. Subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class C adalah seperti di bawah. Silakan anda coba menghitung seperti cara diatas untuk subnetmask lainnya.
Subnet Mask
Nilai CIDR
255.255.255.128
/25
255.255.255.192
/26
255.255.255.224
/27
255.255.255.240
/28
255.255.255.248
/29
255.255.255.252
/30
 SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS B
Berikutnya kita akan mencoba melakukan subnetting untuk IP address class B. Pertama, subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class B adalah seperti dibawah. Sengaja saya pisahkan jadi dua, blok sebelah kiri dan kanan karena masing-masing berbeda teknik terutama untuk oktet yang “dimainkan” berdasarkan blok subnetnya. CIDR /17 sampai /24 caranya sama persis dengan subnetting Class C, hanya blok subnetnya kita masukkan langsung ke oktet ketiga, bukan seperti Class C yang “dimainkan” di oktet keempat. Sedangkan CIDR /25 sampai /30 (kelipatan) blok subnet kita “mainkan” di oktet keempat, tapi setelah selesai oktet ketiga berjalan maju (coeunter) dari 0, 1, 2, 3, dst.
Subnet Mask
Nilai CIDR
255.255.128.0
/17
255.255.192.0
/18
255.255.224.0
/19
255.255.240.0
/20
255.255.248.0
/21
255.255.252.0
/22
255.255.254.0
/23
255.255.255.0
/24
Subnet Mask
Nilai CIDR
255.255.255.128
/25
255.255.255.192
/26
255.255.255.224
/27
255.255.255.240
/28
255.255.255.248
/29
255.255.255.252
/30
Ok, kita coba dua soal untuk kedua teknik subnetting untuk Class B. Kita mulai dari yang menggunakan subnetmask dengan CIDR /17 sampai /24. Contoh network address 172.16.0.0/18.
Analisa: 172.16.0.0 berarti kelas B, dengan Subnet Mask /18 berarti 11111111.11111111.11000000.00000000 (255.255.192.0).
Penghitungan:
1.     Jumlah Subnet = 2x, dimana x adalah banyaknya binari 1 pada 2 oktet terakhir. Jadi Jumlah Subnet adalah 22 = 4 subnet
2.     Jumlah Host per Subnet = 2y – 2, dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada 2 oktet terakhir. Jadi jumlah host per subnet adalah 214 – 2 = 16.382 host
3.     Blok Subnet = 256 – 192 = 64. Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192. Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192.
4.     Alamat host dan broadcast yang valid?
Subnet
172.16.0.0
172.16.64.0
172.16.128.0
172.16.192.0
Host Pertama
172.16.0.1
172.16.64.1
172.16.128.1
172.16.192.1
Host Terakhir
172.16.63.254
172.16.127.254
172.16.191.254
172.16.255.254
Broadcast
172.16.63.255
172.16.127.255
172.16.191.255
172.16..255.255
Berikutnya kita coba satu lagi untuk Class B khususnya untuk yang menggunakan subnetmask CIDR /25 sampai /30. Contoh network address 172.16.0.0/25.
Analisa: 172.16.0.0 berarti kelas B, dengan Subnet Mask /25 berarti 11111111.11111111.11111111.10000000 (255.255.255.128).
Penghitungan:
1.     Jumlah Subnet = 29 = 512 subnet
2.     Jumlah Host per Subnet = 27 – 2 = 126 host
3.     Blok Subnet = 256 – 128 = 128. Jadi lengkapnya adalah (0, 128)
4.     Alamat host dan broadcast yang valid?
Subnet
172.16.0.0
172.16.0.128
172.16.1.0
172.16.255.128
Host Pertama
172.16.0.1
172.16.0.129
172.16.1.1
172.16.255.129
Host Terakhir
172.16.0.126
172.16.0.254
172.16.1.126
172.16.255.254
Broadcast
172.16.0.127
172.16.0.255
172.16.1.127
172.16.255.255
Masih bingung juga? Ok sebelum masuk ke Class A, coba ulangi lagi dari Class C, dan baca pelan-pelan
SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS A
Kalau sudah mantab dan paham, kita lanjut ke Class A. Konsepnya semua sama saja. Perbedaannya adalah di OKTET mana kita mainkan blok subnet. Kalau Class C di oktet ke 4 (terakhir), kelas B di Oktet 3 dan 4 (2 oktet terakhir), kalau Class A di oktet 2, 3 dan 4 (3 oktet terakhir). Kemudian subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class A adalah semua subnet mask dari CIDR /8 sampai /30.
Kita coba latihan untuk network address 10.0.0.0/16.
Analisa: 10.0.0.0 berarti kelas A, dengan Subnet Mask /16 berarti 11111111.11111111.00000000.00000000 (255.255.0.0).
Penghitungan:
1.     Jumlah Subnet = 28 = 256 subnet
2.     Jumlah Host per Subnet = 216 – 2 = 65534 host
3.     Blok Subnet = 256 – 255 = 1. Jadi subnet lengkapnya: 0,1,2,3,4, etc.
4.     Alamat host dan broadcast yang valid?
Subnet
1.     0.0.0
2.     1.0.0

1.     254.0.0
2.     255.0.0

Host Pertama
1.     0.0.1
2.     1.0.1

1.     254.0.1
2.     255.0.1

Host Terakhir
1.     0.255.254
2.     1.255.254

1.     254.255.254
2.     255.255.254

Broadcast
1.     0.255.255
2.     1.255.255

1.     254.255.255
2.     255.255.255

Mudah-mudahan sudah setelah anda membaca paragraf terakhir ini, anda sudah memahami penghitungan subnetting dengan baik. Kalaupun belum paham juga, anda ulangi terus artikel ini pelan-pelan dari atas. Untuk teknik hapalan subnetting yang lebih cepat, tunggu di artikel berikutnya
Catatan: Semua penghitungan subnet diatas berasumsikan bahwa IP Subnet-Zeroes (dan IP Subnet-Ones) dihitung secara default. Buku versi terbaru Todd Lamle dan juga CCNA setelah 2005 sudah mengakomodasi masalah IP Subnet-Zeroes (dan IP Subnet-Ones) ini. CCNA pre-2005 tidak memasukkannya secara default (meskipun di kenyataan kita bisa mengaktifkannya dengan command ip subnet-zeroes), sehingga mungkin dalam beberapa buku tentang CCNA serta soal-soal test CNAP, anda masih menemukan rumus penghitungan Jumlah Subnet = 2x – 2
Silahkan untuk yang belum jelas bisa di download file wacana diatas bisa di download disini